0


“Merdeka, Merdeka, Merdeka,” teriak ratusan siswa mengikuti Pak Fikri saat apel pagi, Senin (6/8) di Lapangan SDIT Bina Amal.

Biasanya yang menjadi pembina upacara atau apel pagi adalah guru-guru SDIT Bina Amal. Namun kali ini dari wali murid SDIT Bina Amal, DR. Abdul Fikri Faqih, M.M. Tiga putranya alumni SDIT Bina Amal: Sumayya Ahida Fikri, Afifah Tohiro Fikri, dan Urwah Dzaki Umam.

Berkenaan dengan bulan Agustus, bulan kemerdekaan, Pak Fikri, menyampaikan materi nasionalisme. Pak Fikri menceritakan sejarah kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, merdeka berarti tidak dijajah, boleh sekolah, dan boleh bercita-cita menjadi presiden.

“Siapa yang ingin menjadi Presiden?” tanya Pak Fikri, DPR RI Komisi X bidang Pendidikan, Kebudayaan, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, Olahraga, Perpustakaan. Beberapa siswa mengangkat tangan dan berkata dengan tegas, “Saya!”

Pak Fikri kembali menceritakan sejarah kemerdekaan RI. Beliau mengatakan ada kurang lebih empat puluh kesultanan islam atau kerajaan kecil seperti Tidore, Ternate, Aceh, Banten yang dibubarkan penjajah. Namun semangat perjuangan mereka tetap membara hingga merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pak Fikri mengajarkan tentang cara menghargai pahlawan. Siswa tidak ikut berjuang memerdekakan Bangsa Indonesia. Akan tetapi siswa bisa menghargainya dengan tekun belajar.
“Sebagai siswa, cara menghargai perjuangan pahlawan adalah dengan tekun belajar agar jadi anak yang pintar, semangat meraih cita-cita untuk mewujudkan kemenangan bangsa,” tutur wali murid SDIT Bina Amal yang akrab dipanggil Pak Fikri.

Alifiah Rizqeni, siswa kelas V semakin tinggi rasa nasionalisme setelah mendengar motivasi dan penuturan dari Pak Fikri. “Alhamdulillah, materi nasionalisme tadi bagus sekali. Saya semakin rajin belajar untuk meraih cita-cita dan akan memperjuangkan pendidikan Indonesia seperti Pak Fikri yang anggota DPR RI bindang pendidikan.” Kata Alifiah.

Pak Fikri berharap agar anak-anak Bina Amal bisa meraih cita-cita yang diinginkan. “Jangan takut untuk bercita-cita karena kita sudah merdeka. Kita bebas untuk sekolah dan bebas meraih cita-cita untuk bangsa Indonesia. Merdeka, merdeka, merdeka,” motivasinya untuk siswa SDIT Bina Amal.

Kepala SDIT Bina Amal, Enni Rustiyanti, S.PdI turut memotivasi siswa agar menjunjung tinggi nilai nasionalisme di sekolah, lebih-lebih ini adalah bulan ulang tahun kemerdekaan RI. “Mari tingkatkan nasionalisme siswa bina amal, tunjukkan bahwa sekolah islam terpadu punya nasionalisme yang tinggi dengan menyanyikan lagu kebangsaan, membiasakan upacara, rajin membaca di perpustakaan, bangga memakai produk dalam negeri, dan melestarikan permainan tradiisional,” tuturnya.

Kegiatan diawali dengan menyannyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya agar siswa semakin cinta dengan tanah air Indonesia. Dan diakhiri dengan salaman. Siswa antre dengan tertib mencium tangan Pak Fikri. Siswa kembali ke kelas sembari mengambil sampah di lapangan. Rasa nasionalisme tertanam pada siswa dengan tekun belajar, menyanyikan lagu nasional, rutin upacara, dan budaya cinta lingkungan yang bersih. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Inilah potret nasionalisme sekolah Bina Amal.

Posting Komentar

 
Top