0


Ada seorang ayah, setiap kali pulang kerja, merasa begitu lelah dan emosi, mudah sekali tersinggung.
Berkali-kali terjadi, hampir setiap hari. Ayah tersebut merasa marah akan hari yang dilaluinya. Setelah itu, ketika melihat anaknya sedang bermain, ia pun meledak.

“Ngapain kamu main mobil-mobilan terus? Mana PR-mu?”
“Aku enggak dapat PR apa pun hari ini.”

“Kenapa enggak ada PR? Ayah akan adukan ini ke sekolahmu. Bayar sekolah mahal-mahal, enggak dikasih PR. Bagaimana kamu bisa pintar?”

Bisa kita bayangkan keadaan rumah tersebut. Setiap kali ia pulang, keluarganya menjadi ketakutan. Tidak ada ketenangan, bahkan mereka hidup di bawah tekanan. Bukan tekanan dari rentenir atau penagih utang, melainkan tekanan dari ayahnya, tekanan dari suaminya sendiri.

Sejatinya, seorang ayah harus menjadi sebab keluarganya bahagia. Seorang anak harusnya berlari memeluk ketika ayahnya pulang. Seperti itulah seharusnya hubungan antara ayah dan anak.Luangkanlah waktu untuk buah hati sesibuk apa pun diri kita.

Sudahkah Anak Kita Memeluk dan Terlihat Sangat Bahagia Setiap Kali Kita Pulang Kerja?

Zaman telah berkembang sangat pesat. Pada 20, 30, atau 40 tahun yang lalu, seorang ayah bisa dengan mudah memerintah anaknya. Menjadi begitu tegas dan berwibawa hingga anak menjadi segan padanya. Namun, di zaman teknologi ini, ketika semua orang dengan mudah terpapar informasi, seorang ayah pun harus ikut berkembang seiring dengan berkembangnya zaman. Seorang ayah harus mampu menjadi teman sekaligus pengatur bagi anak-anaknya.

Saat kita kecil, ayah kita bukanlah sahabat kita. Ia adalah seseorang yang mengatur sebagian besar aspek kehidupan kita, tetapi tidak menjadi tempat kita bercerita ataupun seorang sahabat. Di tahun 2015 ini, kita tidak bisa melakukan hal yang sama. Saat kita hanya mengatur-ngaturnya tanpa mau mendengarkan atau mengusahakan untuk dekat dengannya, anak akan mencari tempat nyaman yang lain untuk berbagi cerita, ide, bahkan keinginannya.

Ini zaman teknologi. Ini zaman gadget. Ini zaman Google. Ini zaman media sosial. Kita harus menerima kenyataan bahwa anak-anak kita menerima begitu banyak informasi dengan mudah sekarang. Jangan biarkan anak kita dibesarkan oleh informasi yang kita tidak tahu dari mana sumbernya.

Ayahlah yang akan mengajarkan anaknya tentang Islam, indahnya Islam. Jangan sampai anak menjadi jauh dari agamanya karena kita yang lupa mengenalkannya. Untuk mengenalkan Islam agar lekat dihatinya, kita harus menjadi seorang sahabat untuknya.
Jika Kita Terlanjur Jauh dari Anak, Bagaimana Cara Mendekatinya?Jangan sampai kita melewatkan masa kecilnya.

Kuasailah permainan yang disukainya. Ikutlah bermain bersamanya. Berbagilah cerita dengannya. Dengarkan ide dan impiannya. Tidak perlu terlalu banyak menonton berita ketika berada di rumah. Cukup dengarkan di mobil saja. Jangan pulang, lalu menonton TV! Luangkan waktu untuk anak-anak.

Di rumah, ayah adalah milik anak-anaknya. Bukan TV, bukan kantor, bukan gadget.

Pulang dan bermainlah dengan anak-anak. Kerjakan PR bersamanya. Mengobrol dengannya. Ajak anak ke masjid ketika azan. Lakukan banyak hal bersamanya. Buatlah ia mencintai ayahnya.

Sudah siap menjadi ayah idaman yang menyejukkan hati anak-anaknya?

Posting Komentar

 
Top