0

Kehadiran Mush’ab disambut oleh kaum Muslimin dan mereka yang belum masuk Islam. Mush’ab segera berbicara.

Ia menyampaikan kabar gembira bagi orang-orang yang mau beriman dan menyampaikan kabar menyedihkan bagi mereka yang tidak mau beriman. Semua orang khusyuk mendengarkan.

Belum lama majelis dimulai, As’ad bin Zurarah melihat Usaid bin Hudhair menuju ke tempat mereka. Ia segera memberi tahu Mush’ab, “Kebetulan wahai Mush’ab, itu pemimpin kaum telah datang,” ujarnya.

“Ia seorang yang sangat cemerlang otaknya dan cerdas akalnya. Dia adalah Usaid bin Hudhair. Jika dia masuk Islam, tentu akan banyak orang mengikutinya. Berdoalah kepada Allah dan hadapilah dia dengan bijaksana.”

Setibanya di hadapan majelis itu, Usaid bin Hudhair langsung berdiri di tengah-tengah mereka. Tatapan matanya tajam memandang ke arah Mush’ab dan orang-orang yang ada di situ. As’ad bin Zurarah juga tidak luput dari sorotan matanya yang nyaris tak berkedip. Ia menyimpan kemarahan yang sangat besar kepada pendatang dari Makkah ini.

“Apa maksud Tuan-tuan datang ke sini? Kalian hendak memengaruhi rakyat kami? Pergilah kalian sekarang juga, jika kalian masih ingin hidup!” teriak Usaid.

Mush’ab menoleh kepada Usaid dengan wajah sejuk. Tampak sekali cahaya iman memantul dan berseri-seri. Dengan gayanya yang simpatik dan menawan, dia mulai bicara. “Wahai Tuanku, maukah engkau mendengarkan yang lebih baik dari itu?”

“Apa itu?” sergah Usaid dengan mimik sinis.

Mush’ab melanjutkan, “Silakan duduk bersama-sama kami, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Jika engkau suka apa yang kami perbincangkan, silakan ambil. Dan jika engkau tidak suka, kami akan meninggalkan kampung halaman ini dan tidak akan kembali lagi.”

“Anda memang pintar,” jawab Usaid. Hatinya mulai sedikit lumer. Ia menancapkan tombaknya ke tanah, kemudian duduk dengan tenang.

Mush’ab mengarahkan pembicaraan kepadanya tentang hakikat Islam sambil membaca ayat-ayat Alquran di sela-sela pembicaraannya.

Beberapa saat kemudian, tampak rasa gembira terpancar di muka Usaid. Lalu dia berkata, “Alangkah bagusnya apa yang engkau katakan. Apa yang kamu baca sungguh sangat indah. Apa yang kulakukan jika aku masuk Islam?”

Dengan senang Mush’ab menjawab, “Mandilah, bersihkan pakaianmu, lalu ucapkan dua kalimat syahadat! Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, sesudah itu shalat dua rakaat.”

Usaid langsung berdiri dan pergi ke telaga di sebelah kebun itu. Ia segera menyucikan badan. Sekembalinya di hadapan Mush’ab, ia mengu­capkan dua kalimat syahadat dan mengerjakan shalat dua rakaat.

Mulai hari itu, bergabunglah ke dalam barisan kaum Muslimin seorang bangsawan Arab, penunggang kuda terkenal, pemimpin suku Aus yang dikagumi; Usaid bin Hudhair.

Tidak lama setelah Usaid masuk Islam, Sa'ad bin Mu'adz masuk Islam pula. Islamnya kedua tokoh ini menyebabkan seluruh masyarakat dari suku Aus masuk Islam. Sesudah itu, jadilah Madinah tempat hijrah Rasulullah SAW dan tempat berdirinya pemerintahan Islam yang besar.


Usaid bin Hudhair sangat mencintai Alquran. Ia bagai orang kehausan di padang yang panas, lalu mendapatkan jalan menuju mata air yang sejuk.

Dicintai Malaikat

Suatu malam, Usaid duduk di beranda belakang rumahnya. Anaknya, Yahya, tidur di dekatnya. Kuda yang selalu siap untuk berperang ti sabilillah, diikat tidak jauh dari tempat duduknya.

Suasana malam tenang dan hening. Permukaan langit jernih tanpa mendung. Usaid tergerak untuk membaca ayat AI-Qur'an yang suci.

“Alif lam miim, Inilah Kitab (Alquran) yang tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib yang menegakkan shalat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum kamu, serta mereka yang yakin akan adanya (kehidupan) akhirat." (QS. Al-Baqarah: 1-4).

Mendengar bacaan tersebut, tiba-tiba kuda yang sedang ditambat lari berputar-putar. Hampir saja tali pengikatnya putus. Ketika Usaid diam kuda itu diam dan tenang. Usaid melanjutkan lagi bacaannya...

“Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 5).

Kembali kuda Usaid berputar-putar lebih hebat dari semula. Ketika ia memandang ke langit, ia mendapati pemandangan bagai payung yang mengagumkan. Ia belum pernah melihat pemandangan serupa itu sebelumnya.

Awan itu indah berkilau, bergantung seperti lampu memenuhi ufuk, bergerak naik dengan sinarnya yang terang. Kemudian perlahan-lahan menghilang dari pandangan.

Esok harinya, Usaid pergi menemui Rasulullah SAW menceritakan peristiwa yang dialaminya. Rasulullah berkata, “Itu adalah malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Alquran. Seandainya engkau teruskan, pastilah akan banyak orang yang bisa melihatnya. Pemandangan itu tidak akan tertutup dari mereka.” (HR. Bukhari-Muslim).

Usaid bin Hudhair hidup sebagai seorang ahli ibadah. Harta benda dan jiwa raga yang dimilikinya diserahkan sepenuhnya untuk perjuangan Islam. Bagi Usaid tidak ada puncak keindahan dan kemenangan dalam perjalanan hidupnya selain bila cahaya Islam terus bersinar.

Pandangan hidup yang seperti itu mengantarnya memperoleh julukan sebagai, “Sebaik-baik laki-laki, Usaid bin Hudhair!” kata Rasulullah SAW.

Usaid ditakdirkan Allah sempat melihat kepemimpinan Khalifah Umar Al-Faruq yang tegas, adil dan bijaksana. Dan pada bulan Sya’ban tahun 20 Hijriyah, ia berpulang keharibaan Allah SWT menyusul syuhada-syuhada yang telah mendahuluinya.

Amirul Mukminin Umar bin Khathab tidak mau ketinggalan turut serta memikul sendiri jenazah tokoh Anshar ini di atas bahunya menuju taman makam syuhada di Baqi....(end)



Posting Komentar

 
Top