0


Secara khusus, kaum Anshar ialah mereka yang secara tulus berjihad dengan harta dan jiwa mereka untuk menolong Rasulullah dalam menegakkan panji-panji Islam.

Mereka bukan sekadar menolong kehadiran kaum Muhajirin dari Kota Makkah, tetapi sudah menganggap bahwa kaum Muhajirin adalah saudara seiman yang amat mereka cintai.

Setelah Rasulullah SAW wafat, terdapat segolongan Anshar yang dikepalai oleh Sa’ad bin Ubadah, yang mengumumkan bahwa mereka lebih berhak memegang Khalifah atas kelompok Muhajirin.

Alasannya, bukankah kaum Anshar yang telah membantu Nabi SAW di awal kehadirannya di Madinah dulu. Sehingga mereka merasa lebih pantas menerima amanah mulia memegang kepemimpinan atas kaum Muslimin.

Ungkapan tersebut tentu saja mengundang reaksi dari kaum Muhajirin. Apalagi suasana kaum Muslimin sedang dalam keadaan berkabung. Adu debat pun tidak lagi dapat dielakkan. Siapakah yang lebih berhak memegang tampuk kekuasaan umat Islam, kaum Anshar atau Muhajirin.

Ketika suasana semakin memanas, maka Usaid bin Hudhair sebagai salah seorang tokoh dari kalangan Anshar tampil mendinginkan suasana. Kepada kaumnya ia berkata, “Bukankah tuan-tuan mengetahui bahwa Rasulullah SAW adalah dari golongan Muhajirin? Karenanya Khalifah juga sewajarnya dari golongan Muhajirin! Dan kita adalah pembela Rasulullah, maka kewajiban kita sekarang adalah membela Khalifahnya.”

Kata-kata kunci yang disampaikan Usaid mengakhiri percekcokan yang nyaris memecah belah persaudaraan itu.

Siapakah lelaki penyelamat berotak cerdas bernama Usaid ini? Dia adalah seorang pemimpin suku Aus, kabilah dari Yaman yang bertransmigrasi ke Madinah bersama saudaranya suku Khazraj. Belakangan kedua kabilah ini kemudian menetap di sana.

Ayahnya adalah Hudlairul Kata’ib, seorang sesepuh Aus dan salah seorang bangsawan Arab di zaman jahiliyah. Sebelum kehadiran Islam, kendati bersaudara, kedua suku besar tersebut selalu terlibat bentrok satu sama lain. Sekalipun begitu, di saat lain mereka sama-sama menghadapi musuh bebuyutan dari golongan Yahudi.

Yahudi ini merupakan minoritas nonpribumi yang menguasai perekonomian di Madinah. Sedikit banyak hal itu membuat golongan pribumi merasa iri. Sakit hati itu bertambah membengkak karena orang-orang Yahudi bersikap angkuh dan takabur.

Ayah Usaid, Hudhairul Kata’ib termasuk pahlawan yang sangat gigih menentang keangkuhan dan kecongkakan Yahudi. Kegigihan dan keberanian itu mendatangkan kekaguman di kalangan kaumnya.

Bagi Hudhair, tidak ada persahabatan dengan dedengkot-dedengkot Yahudi yang dikenalnya rakus dan selalu menghalalkan segala cara. Sikap yang tegas tanpa kompromi itu mengalir ke putranya. Wajar kalau darah kepahlawanan seperti itu pun dimiliki juga oleh Usaid bin Hudhair.

Awal keislaman Usaid

Ketika Mush’ab bin Umair diutus Rasulullah ke Madinah, untuk membina kelompok Anshar yang telah berbaiat kepada Nabi di Baitul Aqabah pertama, berita kedatangan beliau sudah sampai juga ke telinga Usaid.

Mush’ab bin Umair tinggal di rumah As’ad bin Zurarah, seorang bangsawan suku Khazraj. As’ad kebetulan keluarga dekat Sa’ad bin Mu’adz (anak bibinya). Sedang Sa’ad bin Mu’adz adalah sahabat Usaid bin Hudhair di tampuk kepemimpinan suku Aus.

Di rumah itu, keberadaan Mush’ab bin Umair dijamin. Di rumah itu pula Mush’ab menebarkan dakwah Islamiyah dan menyampaikan berita gembira mengenai Nabi Muhammad SAW.

Tidak sedikit penduduk yang mendatangi majelis Mush’ab. Gaya bicaranya yang menawan, hujjahnya yang jelas dan masuk akal, ditambah dengan halus budinya, membuat daya tarik yang kuat bagi penduduk Yatsrib. Apalagi sinar iman di wajahnya menyejukkan siapa saja yang memandangnya.

Di atas semua itu, yang lebih menarik hati adalah ayat-ayat yang dibacakan Mush’ab bin Umair di sela-sela pembicaraannya. Hati yang keras bisa melunak. Orang yang merasa berlumuran dosa menyesali perbuatan masa lalunya yang gelap. Bahkan karenanya tidak ada orang yang meninggalkan majelis itu kecuali telah menyatakan dirinya bersyahadat memilih Islam sebagai jalan baru.

Perkembangan yang begitu cepat itu membuat gusar Sa’ad bin Mu’adz. Ia segera menemui sahabatnya, Usaid bin Hudhair, dan berkata cemas, “Hai Usaid, sebaiknya engkau datangi pemuda Makkah itu. Dia telah memengaruhi rakyat kita dan membodoh-bodohi mereka. Tuhan kita dijelek-jelekkan. Cegahlah dia dan ingatkan jangan tinggal di negeri ini, sejak hari ini!”

Setelah berhenti sejenak, Sa’ad melanjutkan bicaranya, “Seandainya dia bukan tamu anak bibiku (As’ad bin Zurarah), sungguh akan aku bereskan sendiri.”

Mendengar itu, Usaid segera mengambil tombaknya, lalu pergi mencari Mush’ab. Saat itu, As’ad bin Zurarah sedang menyertai Mush’ab bin Umair menemui Bani Abdul Asyhal untuk mengajarkan Islam kepada mereka. Keduanya masuk ke sebuah kebun milik Bani Abdul Asyhal, lalu duduk-duduk di bawah pohon kurma di pinggir sebuah telaga.....(bersambung...)

khasanah republika

Posting Komentar

 
Top