0


Setelah Perang Badar usai, kaum Muslimin menawan sejumlah pasukan musuh. Di antara orang-orang Quraisy yang tertawan adalah seorang yang bernama Wahab bin Umair bin Wahab Al-Jumahy.

Ayahnya, Umair bin Wahab Al-Jumahy, adalah pahlawan Quraisy dan seorang yang sangat memusuhi Rasulullah SAW.

Yang membuat Umair sangat sedih, putra kesayangannya, Wahab, kini ditawan pasukan kaum Muslimin. Bagaimana nasib anaknya ditangan pasukan lawannya? Pikirannya selalu gelisah.

Setiap hari, siang dan malam Umair selalu resah dan gelisah. Pikirannya selalu melayang ke buah hatinya yang sangat disayanginya itu.

Pada suatu hari ia duduk-duduk bersama sahabat karibnya, Shafwan bin Umayah, seorang pemuda anak seorang pemimpin Quraisy. Saat itu Shafwan juga sedang dalam duka yang mendalam karena ayah kesayangannya mati di Perang Badar.

Kedua orang yang sedang dalam duka ini berkumpul dan berbincang-bincang mengenai langkah apa yang seharusnya dilakukan.

Di dekat Ka’bah (Hijr) Umair dan Shafwan duduk termenung bersama, lalu keduanya selalu menyebut nama pahlawan-pahlawan Quraisy yang terbunuh di Badar. Di tengah kesempatan itu Shafwan berkata, “Demi Allah, tidak ada kehidupan yang lebih baik sesudah mereka kini, sesudah kematian pahlawan-pahlawan Quraisy.”

“Demi Allah, memang begitu,” timpal Umair. “Amat benarlah katamu itu wahai Shafwan. Demi Allah, seumpama aku tidak punya pinjaman yang banyak, yang kini aku belum dapat melunasinya. Dan seumpama aku tidak punya banyak anak yang selalu aku khawatirkan makannya jika aku tinggal mati, niscaya aku datang kepada Muhammad, dan aku bunuh dia. Hatiku amat sakit padanya. Mengapa dia sampai berani menawan anak yang kucintai?”

Sebagai sahabat yang baik dan didorong oleh rasa dendam yang sama kepada seorang Muhammad, Shafwan berkata, “Ah, kalau betul-betul kau hendak membunuh Muhammad aku sanggup membayar lunas semua pinjamanmu. Adapun anak-anakmu biar bersama-anak-anakku dan orang-orang yang jadi tanggunganku. Akulah yang menanggung makannya selama aku masih hidup.”

Umair dengan pandangan yang berbinar senang menyahut, “Betulkan begitu, hai Shafwan?”

“Mengapa tidak? Aku tokh seorang laki-laki bukan, Kau jangan khawatir!”
Umair menyahut, “Kalau memang betul-betul kamu sanggup, baiklah sekarang hal ini kita rahasiakan jangan sampai ada seorang pun yang mendengar!”

Shafwan berkata, “Ya, baiklah! Dan segera kerjakanlah!”

Keduanya kemudian pulang ke rumah masing-masing. Sesampai di rumah Umair segera berkemas-kemas dan menyediakan alat-alat dengan selengkapnya. Pada pagi harinya, berangkatlah Umair dengan membawa senjata yang amat tajamnya, di antara yang dibawanya adalah pedang beracun.

Di Madinah, selagi Umar bin Khathab bercakap-cakap dengan sekelompok kaum Muslimin tentang Perang Badar dan mereka menyebut-nyebut pertolongan Allah kepada mereka, tiba-tiba terdengar suara datangnya seseorang.

Ketika Umar menoleh, tampaklah olehnya Umair bin Wahab yang sedang bergerak menuju ke arah masjid. Umar berkata kepada para sahabat, “Itu dia si Umair bin Wahab, musuh Allah!”

“Demi Allah, pasti kedatangannya untuk maksud jahat. Dialah yang menghasut orang banyak dan mengerahkan mereka untuk memerangi kita di Perang Badar!” kata Umar berang.

Pandangan Umar terus tertuju pada setiap langkah unta yang ditunggangi Umair. Umair terus bergerak ke arah masjid, tempat sekelompok Kaum Muslimin berkumpul. Pandangannya di arahkan ke kiri dan ke kanan, mencari tahu di mana tempat Nabi Muhammad SAW.

Pedang beracun andalannya dihunuskan, dengan mata dan muka merah seolah-olah sedang mabuk. Ia duduk tegak di atas untanya. Kemudian setelah ia sampai di masjid, turunlah ia dan mengikat untanya.

Saat itu, Rasulullah ada di dalam rumah. Dengan cepat Umar RA berlari menuju ke sana dan masuk ke dalam rumah, sambil berkata dengan suara yang sangat nyaring, “Ya Rasulullah, itulah seteru Allah si Umair bin Wahab telah datang dengan menyelempangkan pedangnya.”

Lalu Umar membawa masuk Umair menghadap Nabi. Bagai harimau yang kehilangan gigi, Umair sama sekali tidak berkutik ketika tali pedang beracunnya dipegang oleh Umar RA . Ada ketakutan yang tidak bisa disembunyikan ketika Umair berhadapan dengan Umar.

Ia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Memang, selamanya pahlawan-pahlawan bangsa Quraisy takut kepada Umar. Sesampai di hadapan Nabi, lalu beliau bersabda, “Lepaskanlah dia, hai Umar!” Umar segera mematuhi perintah Rasulullah SAW.

“Selamat pagi untukmu, hai Muhammad!” kata Umair.

Ucapan penghormatan seperti itu adalah seperti yang lazimnya dilakukan masyarakat jahiliyah. Lalu Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan suatu ucapan kehormatan yang lebih baik dari ucapanmu itu, hai Umair. Penghormatan itu ialah Salam.”

Selanjutnya Nabi bertanya kepada Umair, “Hai Umair sesungguhnya kamu ini datang kemari untuk apa?”

Ia menjawab, “Ya Muhammad, aku datang kemari ini hendak bertemu dengan anakku yang sekarang ada di tanganmu.”

Nabi SAW berkata, “Tidak! Sebenarnya saja. Kamu jangan berdusta.”

“Betul, ya Muhammad,” jawab Umair. “Sesungguhnya aku hendak bertemu dengan anakku, dan aku hendak meminta kepadamu supaya engkau berbuat baik kepadanya.”

Nabi berkata lagi, “Apa gunanya pedang yang kamu bawa itu?”

“Pedang ini tidak ada gunanya sedikit jua pun bagiku. Mudah-mudahan Allah menjelekkan pedang ini,” jawab Umair.

“Tidak begitu, ya Umair! Adakah kamu membenarkan, jika aku mengatakan (menerangkan) segala apa maksudmu datang kemari.”

“Aku tidak datang kemari melainkan untuk itu, Muhammad.”

Nabi dengan tersenyum lalu berkata, “Ah, tidak begitu! Mesti ada maksud lain yang kamu simpan. Cobalah dengarkan, beberapa saat yang lalu, kamu duduk bersama-sama dengan Shafwan bin Umayyah di Hijr, lalu kamu dan Shafwan menyebut kaum Quraisy yang tertanam semuanya di sumur Badar. Selanjutnya, kamu berkata begini dan begitu, dan Shafwan juga berkata begini dan begitu. Lantas kamu menyahut begini. Bukankah begitu?”

Keterangan Nabi sedikit pun tidak berselisih dari apa yang diperbincangkan oleh Umair kepada Shafwan pada waktu itu.

Umair lalu bertanya, “Ya Muhammad, Mengapa engkau tahu begitu jelas? Padahal waktu itu tidak ada seorang pun yang tahu.”

“Tentu saja aku tahu, karena ada yang memberitahukan kepadaku. Dan betulkan semua yang kukatakan itu!”

Saat itu, benih kebencian yang semula ada berubah menjadi kagum terhadap sosok Muhammad SAW. Dan seketika itu juga Umair mengucapkan dua kalimat syahadat. “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tuan itu Pesuruh Allah. Sungguh aku dulu mendustakan engkau Muhammad, dengan segala apa yang telah engkau datangkan dari langit dan segala apa yang diturunkan atas engkau.”

“Perkara yang engkau katakan tadi, sungguh ketika aku bercakap-cakap dengan Shafwan, tidak ada seorang pun yang tahu, melainkan aku sendiri dan Shafwan. Sesungguhnya demi Allah, aku sekarang mengerti dan sangat percaya, bahwa segala apa yang datang kepadamu itu tidak lain dan tidak bukan, melainkan dari Allah sendiri.”

Membela agama Allah
Selanjutnya, Umair meminta izin kepada Nabi hendak pulang bersama anaknya (yang telah dibebaskan oleh Rasulullah). “Ya Rasulullah,” ujarnya. “Dulu aku seorang pembela bagi pemadam cahaya Allah yang sangat menyakitkan kepada orang-orang yang mengikuti agama Allah dan amat menyakitkan kepada tuan yang nyata-nyata pesuruh Allah.”

“Oleh sebab itu, aku hendak pulang ke Makkah, dan sengaja memohon izin kepada tuan. Di Makkah akan kusampaikan kepada kawan-kawan Quraisy supaya mereka ikut kepada utusan Allah dan Rasul-Nya. Supaya mereka memeluk Islam. Mudah-mudahan saja mereka mendapat petunjuk dari Allah. Dan jika tidak suka mengikuti, aku akan menyakiti mereka sebagaimana aku dulu menyakiti sahabat-sahabat Tuan.”

Darah syuhada telah mengalir ke dalam setiap sel tubuh Umair. Dengan semangat kepahlawanan, ia berusaha ingin menutupi segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya di masa jahiliyah kemarin.

Umar bin Khathab pun berubah menjadi sangat cinta kepadanya. “Demi Allah yang diriku di tangan-Nya. Sesungguhnya aku lebih suka melihat babi daripada si Umair sewaktu mula-mula muncul di hadapan kita. Tapi sekarang aku lebih suka kepadanya daripada sebagian anakkku sendiri.”

Sementara itu, berita keislaman Umair sudah mulai ramai dibicarakan. Setiap rombongan yang datang dari Madinah, tidak ada kata yang terlewat, selain membicarakan kepindahan Umair ke agama Muhammad SAW. Bumi terasa berputar bagi Shafwan.

Peristiwa yang diharap-harapkannya akan dapat menggembirakan kaumnya dan melupakan kejadian Perang Badar dengan meninggalnya Muhammad, kenyataan yang datang bagai petir menyambar.

Sesampai di Makkah, Umair dengan sungguh-sungguh berseru kepada kaum musyrikin Quraisy, terutama kepada Shafwan.

Dan pada suatu hari ia datang kepadanya seraya berkata, “Hai Shafwan, kau itu seorang ketua (penghulu) kaum Quraisy, tapi mengapa kamu menyembah kepada batu-batu dan berhala itu? Demi Allah, sekarang aku telah menyaksikan, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah dan menyaksikan pula bahwa sesungguhnya Muhammad itu hamba dan utusan-Nya. Aku mengajakmu, hendaklah kamu mengikuti Muhammad!”

Shafwan ketika itu tidak menjawab sepatah kata pun (seperti yang sudah diikrarkannya sendiri). Ia sangat marah kepada Umair. Ia bahkan bermaksud akan menyerangnya karena merasa dikhianati. Tapi niat itu segera urung melihat Umair masih mengusung pedangnya.

Shafwan menghindar dan mengambil sikap berseberangan dengan Umair. Sebagai sahabat karib, Umair merasa sangat kasihan dengan kenyataan itu. Setelah beberapa lama Shafwan tidak lagi terlihat batang hidungnya.

Sementara jumlah orang-orang Quraisy yang masuk Islam dan mengikuti jejak Umair semakin banyak. Mereka dibawa secara berombongan menuju Madinah untuk menghadap Rasulullah SAW dan belajar Alquran langsung kepada beliau.

Ketika Fathu Makkah, Umair mencium berita rencana Shafwan berangkat ke Jeddah untuk berlayar ke Yaman. Ia akan melakukan bunuh diri dengan terjun ke laut karena diburu rasa takut kepada Muhammad SAW. Umair kemudian menghadap Rasulullah dan mengadukan akan hal ini.

Umair berkata, “Ya Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan itu adalah penghulu kaumnya, ia hendak pergi melarikan diri dengan terjun ke laut karena takut kepada Anda. Maka mohon Anda beri ia keamanan dan perlindungan, semoga Allah melimpahkan karunia-Nya kepada anda.”

Jawab Nabi, “Dia Aman!”

Umair pun segera pergi mengejar Shafwan yang hendak berangkat berlayar. Sembari membawa sorban yang dikenakan Rasulullah ketika memasuki Kota Makkah, ia menunjukkannya kepada Shafwan sebagai jaminan. Umair mengatakan bahwa Rasulullah bersedia menjamin keamanan dan perlindungan kepadanya. Karena belum, yakin Shafwan akhirnya diajak menghadap Rasulullah SAW.

Sejak saat itu, Shafwan mengucapkan dua kalimat syahadat, mengikuti jejak yang telah ditempuh oleh Umair bin Wahab Al-Jumahi. Umair pun melanjutkan perjalanan hidupnya yang penuh berkah. Ia berjuang menegakkan agama Allah untuk melepaskan umat manusia dari kesesatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang, Islam.

khasanah republika

Posting Komentar

 
Top