0


Sawad bin Ghaziyyah Ra adala salah seorang sahabat (Ahlul badar) dan termasuk salah seorang sahabat nabi yang mati syahid di medan perang dalam perang badar. Pada saat hari berlangsungnya pertempura, ketika itu nabii SAW sedang mengatur barisan dan meluruskannya (seperti sedang meluruskan shaf - shafshalat). Ketika Nabi SAW tiba di tempat di mana Sawad berbaris, Posisi barisan Sawad agak bergeser, tiidak lurus dengan barisan anggota yang lainnya. Beliau memukul perut Sawad dengan menggunakan anak panah sambiil bersabda. "Luruskan barisanmu, wahai Sawad..."

Mendapat perlakuan tersebut, dan tanpa di duga oleh siapapun. Sawad tiba - tiba berkata. "Wahai Rasulullah, engkau telah menyakitiku, maka berilah kesempatan kepadaku untuk membalas (Meng-qishash-mu)"

Tentu saja para sahabat yang mendengar perkataan yang keluar dari mulut Sawad marah besar, apalagi sahabat Rasulullah yang bernama Umar bin Khaththab. Nabi SAW sebenarnya terkejut atas sikap Sawad, akan tetapi beliau menenangkan mereka, sambil menyerahkan anak panah yang di pakai memukul, beliau bersabda, "Kalau begitu, balaslah wahai Sawad...."

Sambil menerima anak panah yang di berikan oleh Rasulullah, Sawad berkata. "Wahai rasulullah, engkau memukulku di perut yang tidak tertutup kain, oleh karena itu hendaklah rngkau singkapkan bajumu..."

Para sahabat makin marah dengan sikap dan kemauan Sawad yang tidak sepatutnya ini. Akan tetapi Nabi Muhammad SAW menenangkan mereka dan memenuhi permintaan Sawad. Beliau langsung menyingkapkan baju yang di kenakannya dan mempersilahkan Sawad untuk memukulnya menggunakan anak panah yang tadi di gunakan beliau memukul perut Sawad. Namun apa yang terjadi? Sawad melempar anak panah dan langsung memeluk Nabi SAW dengan erat sambil menangis bahagia, sekaligus meminta maaf kepada beliau. Sekali lagi Nabii SAW dan para sahabat yang lainnya di buat terkejut oleh sikap Sawad yang tidak di sangka - sangka ini. Beliau berkata. "Apa - apaan engkau ini, Sawad...???"

"Inilah yang aku inginkan, ya Rasulullah. Sudah lama aku berharap, kulitku yang hina ini bisa bersentuhan dengan kulit engkau yang mulia dan aku bersyukur bisa melakukannya, semoga ini menjadi semoga ini bisa menjadi saat - saat terakhir dalam hidupku bersama engkau..."

Rasulullah SAW tersenyum mendengar jawaban yang keluar dari mulut Sawad, Karena apa yang di lakukannya adalah Suatu kecintaannya kepada Nabi SAW. Segera saja beliau mendo'akan kebaikan dan ampunan bagi Sawad.

Saat pertempuran terjadi, Sawad segera menghambur ke barisan kaum musyrikin yang jumlahnya jauh lebih besar yang di perkirakan 3 kali lipat banyaknya.Dengan semangat jihad yang begitu menggelora dan di dorong oleh keingina untuk syahid di jalan Allah, ia menyerang musuh tanpa sedikitpun rasa takut. Luka tikaman dan sayatan pedang, tidak langsung menghentikan langkahnya untuk menghadang serangan kaum musyrikin. Sawad baru berhenti berjuang ketika kakinya sudah tidak lagi mampu menopang tubuhnya dan tangannya sudah tidak mampu lagi menggerakkan pedang, akibat terlalu banyak luka - luka dan darah yang mengucur dari tubuhnya. Walau demikian, mulutnya tampak tersenyum ketika tubuhnya roboh ke tanah, karena rohnya langsung di sambut para malaikat dan langsung menghantarkannya ke hadirat Allah.

Lihatlah bagaimana kecintaan para Sahabat kepada Rasulullah, rela mengorbankan jiwa dan raganya. Bagaimana dengan kita...seberapa besarkah kecintaan kita kepada Allah. Sanggupkah mengorbankan harta, jiwa dan raga demi Rasulullah...Wallahu a’lam bishowab...







Posting Komentar

 
Top