0
Ilustrasi Rapor


Dulu, saat pembagian rapor, adalah hari yang mendebarkan untuk orang tua. Beberapa hal yang terkadang membuat cemas adalah mengenai bagaimana nilainya, apakah ada tinta merah tergores atau tidak, meraih peringkat berapa di kelas. Dan setelah pembagian rapor semua yang dicemaskan hilang, maka sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. namun apabila ada satu pelajaran saja yang tidak memuaskan, biasanya anak-anak, akan dijejalkan les ini dan itu untuk mendongkrak nilai.

Dulu, penilaian anak selama satu tahun pelajaran hanya tercermin dalam sebuah buku tipis bernama rapor. Angka-angka yang tertulis dianggap cukup untuk mewakili 'perkembangan' anak dalam satu tahun pelajaran tersebut. Dulu, mata pelajaran yang paling disorot adalah pelajaran-pelajaran teori kelas atas, bukan pelajaran semisal olahraga, kesenian, ataupun keterampilan. Dulu nilai pelajaran agama dianggap mewakili karakter anak, apakah sudah baik atau belum. Dulu pelajaran IPA, matematika, bahasa Inggris dianggap pelajaran yang mewakili kecerdasan anak. Dulu tiap anak diberikan peringkat satu sampai terakhir sesuai jumlah murid, untuk menunjukkan bahwa si A peringkat pertama adalah terpandai di kelas, dan si B peringkat terakhir adalah tertidak pandai di kelas.

Alhamdulillah saat ini ada perbaikan dalam penilaian rapor . Jika dulu rapor yang dibagikan hanya nilai, saat ini anak-anak mendapat tiga jenis rapor, yaitu rapor nilai, rapor narasi, dan rapor Al Quran. Rapot nilai untuk menuliskan nilai yang dicapai tiap mata pelajaran. Yang kedua rapor narasi berisi daftar perilaku atau karakter anak selama semester berjalan, yang masing-masing diberi indikator dari 'belum muncul' sampai 'mandiri'. Yang ketiga adalah rapor Al Quran, yang berisi penilaian terhadap pelajaran membaca Al Quran  dan hafalan suratnya.

Selain jumlah rapor yang dibagikan, orientasi orang tua dan guru pun sama saat bertemu mendiskusikan rapor, yaitu mencari kelebihan anak, mendiskusikan kekurangan anak untuk dicarikan solusi, dan mengevaluasi perkembangan anak dari awal hingga akhir tahun pelajaran. Sebagai orang tua tentu saja senang, karena ini adalah dialog untuk perbaikan terus menerus untuk kedua belah pihak, baik untuk sekolah, maupun untuk anak-anak. Tidak membicarakan si A peringkat pertama sehingga anak yang lain harus meningkatkan belajarnya, Anak-anak hanya dibandingkan dengan dirinya, antar awal tahun pelajaran sampai akhir tahun pelajaran. Dan ini sungguh adil. Karena tiap anak memiliki kecerdasan masing-masing. Dan setiap anak memiliki kebutuhan yang sama untuk dikembangkan perilaku dan karakter yang baik.

Semoga rapor tidak dijadikan satu-satunya acuan untuk menggambarkan milestone perkembangan anak. Karena sejatinya setiap hari pasti ada kemajuan dan perkembangan yang dicapai anak-anak kita

ummi online

Posting Komentar

 
Top