0
Anak Sholih/sholihah berawal dari keteladanan orang tua

Anak adalah anugerah terindah yang Allah titipkan kepada para orang tua. Pemberian anugerah ini tentu disertai tanggung-jawab dalam merawat dan membimbing mereka untuk menjadi manusia yang memahami akan dirinya dan Penciptanya. Peran orang tua sangatlah penting dalam perkembangan akhlak dan karakter anak. Namun, hal yang sering terjadi adalah orang tua menyerahkan tanggung-jawab ini sepenuhnya kepada pihak sekolah. Orang tua berharap anaknya menjadi anak yang baik sepulang mereka menimba ilmu disana.

Sesungguhnya, anak bukanlah pakaian kotor yang diantar ke tempat pencucian ellite (laundry) yang diantar kotor-kotor lalu diterima kembali dalam keadaan sudah bersih, rapi dan wangi. Bukan. Memang benar, sekolah adalah tempat menambah pengetahuan, keterampilan, pendidikan dan tempat awal mula bersosialisasi. Meskipun begitu, tidak menjadikan orang tua berlepas diri dari tanggung-jawabnya menjadi hamba yang Allah titipkan amanah tersebut. Karakter sesungguhnya pertama kali terbentuk di rumah. Kewajiban orang tua lah membentuk karakter tersebut sejak usia dini.

Sikap dan tingkah laku anak adalah cerminan pola asuh orang tua di rumah. Hakikatnya, setiap orang tua hanyalah manusia biasa yang juga tidak selamanya selalu benar dalam ucapan maupun tindakan. Hal inilah yang semestinya disadari oleh kedua pihak, Ayah dan Bunda. Keinginan yang tak selalu sejalan dengan kemauan sang anak, kerap menjadi salah satu pemicu timbulnya konflik antara orang tua dan anak. Kenyataan untuk bisa menjadi orang tua yang baik, bijaksana dan teladan bagi anaknya memang tak selalu menjadi hal yang mudah untuk diwujudkan karena jika salah atau tergelincir sedikit saja, bukan efek positif yang didapat akan tetapi justru sebaliknya. Orang tua merupakan sosok yang semestinya menjadi panutan dan dihormati bagi anaknya, bukan menjadi sosok yang menakutkan dan harus ditakuti. Hal ini tentu memerlukan kesadaran dalam berpikir dengan proses yang tidak sebentar.

Lantas bagaimana caranya untuk menjadi sosok orang tua yang baik, bijaksana dan panutan bagi anaknya? Perlu rasanya kita galakkan pola hidup sakinnah mawaddah warrahmah dalam tuntunan Al Qur’an dan sunnah Rasulillah s.a.w, sebagaimana yang telah beliau contohkan dalam kehidupan berkeluarganya. Berikut beberapa tips bagaimana menjadi orang tua teladan bagi anak-anak :

1. Spiritual Orang Tua Teladan
Disebut juga spiritual parenting yaitu orang tua yang selalu berusaha melingkupi rumah tangga dengan suasana Illahiyah-menghidupkan lentera islam dalam rumah tangga-begitu lebih tepatnya. Mengerjakan perintah-Nya dengan penuh kehambaan dan berkesinambungan, menjauhi larangan-Nya dengan kesadaran penuh takut dan tunduk, menghidupkan sunnah Rasulullah dalam setiap aktivitas berkehidupan baik di dalam rumah maupun aktivtas di luar rumah. Mengajarkan dan mengajak anak-anak untuk mengamalkan doa-doa amalan harian; seperti doa masuk dan keluar kamar mandi, doa hendak dan bangun tidur, doa akan dan setelah makan, doa bercermin, doa masuk dan keluar rumah, doa berkendaraan, dll.

Apakah kita lebih sering menonton TV dibandingkan membaca Al-Quran atau buku lain yang bermanfaat? Apakah kita lebih sering makan sambil jalan dan berdiri dibandingkan sambil duduk dengan membaca Basmallah? Apakah kita sholat terlambat dengan tergesa-gesa dibandingkan sholat tepat waktu? Apakah bacaan surat kita itu-itu saja?

Tidak peduli benar atau salah, setiap yang lahir dari kebiasaan orang tua menjadi contoh bagi anak-anaknya. Maka, perbanyaklah melakukan kegiatan-kegiatan positif yang dapat membangun kekuatan spiritual anak sebab orang tua adalah ‘model’ bagi anaknya.

2. Intelektual Orang Tua Teladan

Meskipun gen kecerdasan diwariskan dari Ibu, tidak menutup keharusan untuk Ayah memiliki kecerdasan intelektual dalam membina rumah tangga harmoni yang dicita-citakan. Senantiasa banyak belajar untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan, bukan untuk konsumsi pribadinya sendiri, tetapi juga menjadi contoh bagi anak-anaknya di rumah bahwa orang tua mereka tidak berhenti belajar meski di usia yang sudah mulai menua.

Selain itu, sebagai muslim kita juga meyakini bahwa Islam adalah agama yang sangat mengutamakan kecerdasan intelektual dengan menyeru kepada ilmu. Dan bukanlah suatu kebetulan jika ayat petama yang diturunkan (QS. Al-‘Alaq ; 1-5) sebagai wahyu kepada Rasulullah saw adalah ayat tentang itu. Ayat ini berbicara tentang pengetahuan dan perangkat-perangkatnya seperti membaca, menulis (qalam), dan belajar.

Dan kita harus yakin bahwasanya orang yang meneliti dan berpengetahuan ikhlas kepada Allah dengan tinta yang dia gunakan untuk menulis itu lebih mulia daripada orang yang syahid di dalam medan peperangan. Hal itu telah dijelaskan dalam hadits Nabi Saw :
“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu sebagai kerelaan apa yang dia buat dan bagi tinta yang mengalir dari pena ulama lebih baik dari pada darah orang-orang yang syahid di jalan Allah.” (Hadits Syarij)
Sebagian ulama telah mengaitkan hadits ini dengan perkataan mereka: Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa nilai tertinggi bagi orang yang mati syahid adalah darahnya, sedangkan nilai terendah bagi yang berilmu adalah tintanya.

Dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda akan keutamaan menuntut ilmu, “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu (syar’i), maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga.” (HR. Muslim no: 2699 dari Abi Hurairah)
Emosional Orang Tua Teladan

Hal yang perlu kita pahami dalam Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient/EQ) ini adalah keseluruhan kemampuan mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan orang lain serta kemampuan mengolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan orang lain. Kecerdasan emosional akan mempengaruhi beberapa hal dalam kehidupan kita, sehingga EQ merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap manusia sebagai makhluk sosial.

Mereka yang memiliki EQ lebih baik, akan lebih mudah setuju dan sepakat dibandingkan individu yang lemah EQ-nya. Kecerdasan emosional yang rendah, masalah yang biasa terjadi berkisar pada permasalahan rumah tangga, problematika pengasuhan anak di rumah, penurunan prestasi dan jenjang karir hingga kesehatan fisik yang juga ikut menurun. Kecerdasan Emosional yang rendah juga dapat menyebabkan timbulnya stress dan depresi yang berkepanjangan, penyakit-penyakit hati, gangguan jiwa, serta kekerasan dan kejahatan-kejahatan mental dan fisik lainnya.

Mengingat pentingnya peningkatan kecerdasan emosional ini, maka perlu kiranya dilakukan tindakan pencerdasan se-dini mungkin, oleh orang tua kepada anak maupun orang tua itu sendiri. Dibutuhkannya peran orang tua dalam pembentukan kecerdasan EQ ini pada anak, agar masa depannya lebih terarah dan agar mereka dapat menjadi problem solver baik bagi permasalahannya sendiri maupun terhadap masalah-masalah yang dihadapinya dimanapun mereka berada. Konon, anak yang punya EQ tinggi memiliki kepribadian yang disukai, lebih mudah bergaul dan lebih sehat jasmaninya berkat kemampuannya mengontrol emosi.

Kecerdasan emosional dalam pribadi anak-anak tentu tidak dapat terbentuk dengan sendirinya secara spontanitas, melainkan pelatihan berkepanjangan dimulai dari diri Ayah dan Bunda di rumah sebagai figur yang selalu dicontoh oleh anak, masyarakat lingkungan tempat tinggal dan sekolah.

Beberapa hal yang dapat kita galakkan dalam mendidik kecerdasan emosional pada anak maupun dalam diri orang tua sendiri :

  • Mengajarkan tata krama dalam keseharian anak, seperti; bersyukur atas setiap apa yang dia miliki dan berterimakasih pada setiap orang yang sudah melakukan kebaikan kepadanya, memaafkan orang lain dengan penuh keikhlasan dan meminta maaf jika bersalah, berlaku jujur dan berani bertanggung-jawab atas setiap perbuatannya yang merugikan orang lain, mengajarkan kepada anak untuk mau peduli atas setiap kesulitan orang lain dan memberikan pertolongan semampunya, serta memberi salam kepada setiap orang yang dijumpai. 
  • Membangun dan mengembangkan rasa empati anak kepada siapa saja dan dari kalangan mana saja. Rasa empati ini dapat berlaku bagi siapa saja, baik anak-anak maupun dewasa dan orang tua. Misalnya, ajarkan kepada anak untuk memenuhi hak-hak sesama seperti; menjenguk yang sedang sakit, memenuhi undangan, bermasyarakat dan bersedekah. 
  • Hal yang paling penting dalam pedidikan emosional ini adalah menciptakan hubungan yang harmonis dan komunikatif dengan anak, memberi pujian dan reward atas perkembangan-perkembangan positifnya, tidak serta merta menjadikan amarah sebagai transformasi bahasa didikan, karena pendekatan yang paling jitu dalam melangsungkan proses pendidikan karakter anak adalah dengan menyentuh hatinya, agar anak mau selalu terbuka dengan kita atas setiap permasalahan yang menimpa dirinya ataupun permasalahan yang ia temui di luar rumah untuk diambil hikmahnya dan agar mereka tidak mencari tempat-tempat atau melakukan perbuatan-perbuatan tercela untuk mengekspresikan gejolak emosionalnya sebagai wujud pelampiasan dan kepuasan.
ummionline

Posting Komentar

 
Top