0
Siswa-Siswi KBIT-TKIT Bina Amal Praktek Manasik Haji

Nabi Ibrahim menghela napas dalam. Ia tak sanggup menanyakan hal ini pada anak kesayangannya itu. Sebuah permata yang baru ia dapatkan setelah puluhan tahun tak dikarunia anak. Tangannya mengelus pipi ismail kecil. Ia benar-benar tak tega. "Hai anakku. Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Nabi Ibrahim terdiam. Ia benar-benar resah menanti jawaban anaknya itu.

Ismail kecil menatap pelan-pelan wajah sang ayah yang sudah keriput. Senyuman tipis mengembang di wajahnya. Tanpa ragu sedikitpun ia berucap, "Qola yaa abatif al maa tu’mar. Satajidunii insyaAllahu minashobirin. Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Ah, ismail kecil. Zaman sekarang sudah sedikit sekali anak-anak yang ridho akan keputusan orang tuanya. Sedikit sekali anak-anak yang selalu berprasangka baik dengan sikap orang tuanya. Jika ada yang tidak sesuai dengan pikiran mereka. Mereka langsung menyangkal. Jarang memikirkan sebab akibatnya terlebih dahulu. Bahkan mereka tak segan beradu mulut dengan orang tuanya. Padahal orang tua mana yang tidak memikirkan kebaikan untuk anaknya. Mungkin 1 banding 1000.

Sebuah kisah dalam penggalan ayat di surat As-shaffat ini benar-benar mengajari kita sesuatu. Segenggam ketaatan ingin ditunjukkan ismail kecil kepada ayahandanya. Sebuah keridhoan yang bermula pada berprasangka baik pada keputusan ayahnya.

Maka jika engkau terlintas mendengar atau membaca ayat tersebut. Jangan terburu-buru meninggalkannya. Resapi artinya. Resapi kembali. “Qola yaa abatif al maa tu’mar. Satajidunii insyaAllahu minashobirin. "Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Kemudian pejamkan matamu. Rasakan kehadiran orangtuamu di sana. Rasakan ada ayah yang sedang menatap wajahmu. Rasakan ada Ibu yang sedang memegang lembut pipimu. Maka saat itu, jika pernah terlintas ketidakridhoanmu atas keputusan orang tuamu. Mungkin rencana akhir minggumu yang batal karena ketidaksetujuan ayahmu. Atau mungkin pilihan studimu yang tak mendapat restu orang tua. Atau pertengkaran yang membuat hati ayah dan Ibumu menjadi sakit hatinya. Maka jika itu sedang kau alami. Ucapkan ayat ini berulang-berulang, Lagi dan lagi. “Qola yaa abatif al maa tu’mar. Satajidunii insyaAllahu minashobirin. "Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Ya, mari menjadi ismail kecil. Mari menjadi sosok yang selalu berprasangka baik terhadap keputusan orang tua kita.

Posting Komentar

 
Top