2


Septi Peni Wulandani, Pembicara Pertama Seminar parenting



Pertama, Kiri. Bu Nur  dari BIna Amal penerima Fresh Money dari Pembicara kedua karena menjawab pertanyaan dengan benar

Syifa, Siswa kelas 1 SDIT Bina Amal, Menghafal QS 'Abasa


Dua dari kiri, Bu Syamsi menerima doorprize tupperware dari panitia. Bu Dian dan Bu May dari Bina Amal juga menerima doorprize.
Pernahkah mendengar ibu rumah tangga? Apa yang terbersit saat mendengar pekerjaan perempuan adalah ibu rumah tangga? Lalu, bagaimana dengan ibu rumah tangga profesional yang mampu melejitkan potensi anak dengan prestasi yang melesat?
Sangat jarang perempuan Indonesia yang bercita-cita menjadi ibu rumah tangga. Disampaikan oleh Septi Peni Wulandani sebagai pembicara pertama, “Mahasiswi pun setelah wisuda berbondong-bondong mencari kerja demi pekerjaan yang dicita-citakan tercapai bukan menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak dan keluarga.”
Disampaikan juga bahwa Ibu Septi mengubah status pekerjaannya dari PNS ahli gizi menjadi Ibu Rumah tangga ahli keluarga. Melepas status PNSnya bukanlah hal mudah. Tahun pertama menjadi pelajaran awal memasuki sekolah dengan prodi ibu rumah tangga profesional. Banyak orang yang mempertanyakan apa yang hendak dicari kebanyakan orang, bahkan ada yang rela memberi uang puluhan juta justru ia lepas. Tiga kata berubah pula jadi tiga kata, dari PNS menjadi IRT. Namun, banyak orang yang memberi applause atas prestasi sebagai ibu rumah tangga profesional termasuk ratusan peserta seminar parenting bertema “Orangtua Hebat, Potensi Anak Melesat” Sabtu (23/04) di Gedung Graha Wisata Semarang.
Kini, banyak prestasi yang ditorehkan Septi Peni Wulandani. Media massa pun mengenalnya sebagai ibu rumah tangga dengan segudang prestasi dan penghargaan. Keluarganya juga menelurkan 15 hak paten atas karyanya. Prestasi anak-anaknya juga tak kalah hebatnya. Enes, putri pertama lulus S1 diusia 18 tahun dan telah magang dengan 3 mentor di bidang Family Finance planner, integrator, project manager, founder komunitas the brightbride serta penerima penghargaan Young Changemaker Ashoka Foundation Tahun 2009. Ara, putri ke dua mendapatkan penghargaan Moo’s Project dari Ashoka Foundation dan menjadi pelopor di usia belia. Elan, diundang Prof. Fumikazu Mazuda ke Jepang dan menjadi pembicara untuk memotivasi anak-anak Jepang atas prestasinya dibidang robot.
Atas prestasi keluarganya, banyak peserta seminar yang terisnpirasi untuk menjadi ibu rumah tangga yang profesional. Salah satunya Listiani Tri Utami. Menurutnya, Ibu Septi Peni wulandani sangat bagus dalam menyampaikan materi dan saya ingin mengikuti jejaknya. Tak hanya perempuan, peserta laki-laki pun mengidolakan konsep pembangunan peradaban rumah tangganya.
Keluarga merupakan masyarakat pertama dan utama untuk menjadi perubahan. Disampaikan oleh Septi bahwa tahun 2016 memasuki MEA banyak negara mendatangi Indonesia dan tahun 2050 akan banyak warga negara asing andil di segala bidang termasuk persaingan bisnis. Jika anak kita tidak menjadi pemimpin pasti jadi pekerja, ibarat kata terjajah di negeri sendiri. Septi mengajak peserta seminar untuk menjadi orangtua hebat yang menjadikan anak sebagai pemimpin dengan prestasi anak melesat seperti tokoh-tokoh muda islam yaitu Muhammad Al Fath di usia 22 tahun mampu menakhlukkan Konstantinopel, Usamah bin Zaid di usia 18 tahun mampu memimpin pasukan yang anggotanya para pembesar seperti Abu Bakar dan Umar, Zaid bin Tsabit, di usia 13 tahun mampu menulis wahyu, dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani.
Sebagai pembicara pertama dalam seminar parenting, Septi telah memberi contoh membangun peradaban rumah tangga yang profesional, menjadi ibu rumah tangga yang profesional. Sedangkan Anwar Jufri, Pembicara kedua menguatkan peserta seminar sebagai calon orangtua sukses dengan dua kunci yaitu meminta atau berdoa kepada Alloh dan terus berusaha. Menjadi orangtua yang profesional bukanlah hal yang mudah. Akan ada hal-hal yang harus diubah. Pilihannya hanya ada dua kata yaitu berubah atau kalah.
Senada dengan Ketua IZI Jawa Tengah, Djoko Adhi Saputro dalam sambutannya mengatakan bahwa tantangan orangtua lebih berat dalam mendidik anak jaman sekarang dengan jaman sebelumnya karena banyak perubahan-perubahan yang kita hadapi. Sementara dalam sambutannya, ketua Hijabers Mom Community Semarang, Siti Adam mengatakan tidak ada yang lebih membahagiakan bagi orangtua selain memiliki anak-anak yang sholih sholihah, berbakti, berbudi pekerti luhur, menjadi generasi yang bertaqwa, cerdas, mandiri, dan bermanfaat bagi banyak orang.
Kegiatan seminar parenting  tersebut terselenggara atas kerjasama berbagai pihak yaitu Hijabers Mom Community, Inisiatif Zakat Indonesia, Jutawan Moment, Kamilia, Tabung Peduli, BNI, Tupperware, Water kangen, Wardah, dan Graha Wisata. Bu Syamsi, Seminar Parenting.

Posting Komentar

bina amal mengatakan... 24 April 2016 01.38

barokalloh delegasi bina amal... semoga menjadi ibu rumah tangga yang profesional dan ibu guru yang profesional. amin

bina amal mengatakan... 24 April 2016 01.43

Berubahlah atau engkau akan kalau. yup, setiap orang harus berubah menuju kebaikan atau engkau akan kalah ditelan keburukan. termasuk peran menjadi guru. berubahlah menjadi guru yang lebih baik atau engkau akan mati karena tidak berprestasi.

 
Top