0
Agar anak tidak mendapatkan efek negatif dari menonton TV dan video games, ini rambu-rambunya

1. Buat pembatasan waktu, yakni:
- Anak di bawah 2 tahun: Sama sekali tidak boleh menonton atau main games yang ada di layar, termasuk iPad, tablet, dll.

- Usia 2 - 6 tahun: Diperbolehkan sampai 1 jam, tapi dipecah-pecah. Misalnya, 15 - 30 menit menonton atau main, lalu istirahat. Setelah itu, baru main lagi.

- Di atas usia itu: Maksimal 3 jam. Sebaiknya, dipecah-pecah sebab anak butuh melakukan hal lain dan beraktivitas fisik.

2. Pembatasan konten. Larang anak menonton tayangan mengandung unsur HOROR, SEKSUAL dan PORNOGRAFI. Pilih tayangan dan video games yang bermanfaat dan mendidik bagi anak.

3. Jebakan kekerasan selalu ada, meski dalam tayangan film kartun. Jebakan ini bisa berupa perilaku atau kata-kata yang tak sopan. Bisa juga, sesuatu yang belum dimengerti anak karena usianya. Jadi, pendampingan orang tua sangat diperlukan.

4. Bagaimana jika mama dan papa bekerja? Tetap sempatkan waktu untuk sesekali menonton. Atau, Mama merekam film kesukaan anak, lalu melihatnya dulu. Jika ada unsur kekerasan, laranglah menonton. Cobalah menggali topik-topik kekerasan yang umum dialami dan akibatnya di dunia nyata.

5. Berikan kegiatan dan fasilitas pengalih untuk mengalirkan energi anak. Mungkin saja, anak belum tahu apa yang bisa dilakukannya. Fasilitas ini tak harus barang, tapi bisa berupa taman, sepeda, atau teman untuk bermain. 

6. Jika anak sudah terlanjur terpapar? Mau tak mau orang tua harus berupaya mengembalikan anak kembali ke track-nya. Secara konsisten, tegaskan pada anak bahwa perilaku dia tidak benar. Selanjutnya, dampingi secara intensif.

Saat menonton, tanyakan: Menurut dia, apakah perilaku itu pantas dilakukan atau tidak? Apa akibatnya? Dan seterusnya. Diskusi semacam ini bisa mendewasakan anak sekaligus mendengar pandangannya, yang kadang-kadang bisa di luar dugaan. Cara ini untuk anak yang usianya lebih besar, ya. 

7. Untuk pembatasan menonton TV dan main video games, terutama untuk usia anak yang lebih besar, bisa juga dengan cara menunjukkan hak dan kewajibannya. Misalnya, ia boleh main games setelah belajar, membuat PR, dan membereskan barang-barangnya untuk sekolah.

Jika sudah beres, buat perjanjian hingga jam berapa ia boleh bermain. Tegas, konsisten, tapi tetap ramah, ya. Aturan pembatasan ini jangan mundur atau batal hanya karena rengekan anak.

8. Kenalkan anak pada aktivitas yang real, seperti berenang, bermain bola, sepeda, bulutangkis, berenang, permainan tradisional (petak umpet, gobak sodor, dll), ballet, dll.

Posting Komentar

 
Top