0

Banyak kesalahpahaman bisa diperbaiki, karena kesediaan meminta maaf. Ketika Putra (7) secara tak sengaja menabrak petugas kebersihan di sekolahnya, wanita itu tersenyum dan tak jadi marah, karena Putra langsung meminta maaf.

Orangtua mengajari anak mengatakan “maaf”, karena ingin anak belajar bersikap sopan, menunjukkan sikap menghargai orang lain, serta memperlihatkan sikap bertanggung jawab terhadap kesalahan yang dilakukan. Minta maaf menunjukkan kesediaan anak mengoreksi dan memperbaiki diri.

Namun, semudah itukah mengajarkan anak meminta maaf? Berikut tipsnya:

- Maaf bukanlah sekadar kata-kata. Ajari anak mengatakan maaf, bila ia memang setulusnya ingin minta maaf.. Maaf berarti lebih daripada sekadar kalimat “Maafkan saya…” Ketika anak Anda berebut mainan dengan temannya sampai si teman menangis, lalu Anda ‘memaksa’nya minta maaf, benarkah ia akan minta maaf dengan sungguh-sungguh? Anda sekadar merasakan tekanan sosial dan merasa malu atau tak nyaman dengan apa yang dilakukan anak Anda, sehingga memaksa anak Anda minta maaf.

Bila demikian, sebetulnya Anda justru mengajari anak untuk bersikap tidak tulus alias ‘berbohong’. Alih-alih memaksanya, berlututlah di sisinya dan katakan, “Lihatlah betapa sedih temanmu, karena kamu telah mengambil mainannya. Lihat betapa keras tangisnya. Apa kamu mau bilang maaf padanya? Kamu bahkan bisa meminjamkan mainanmu sebagai gantinya.” Jika Anda melakukan hal ini, kalau akhirnya ia jadi minta maaf, itu artinya ia memang benar-benar ingin minta maaf.

- Menunjukkan penyesalan dengan cara lain. Bantu anak menemukan cara lain meminta maaf selain dengan kata “maaf”. Kadang-kadang, anak sebetulnya menyesal, namun merasa ‘gengsi’ untuk minta maaf atau mengalami kesulitan mengutarakan penyesalannya. Tak perlu memaksanya minta maaf, tapi tawarkan cara lain untuk memperbaiki keadaan. Misalnya, “Lihat kakakmu. Ia marah, karena kamu membuat kamarnya berantakan. Mengapa kamu tak membantunya membereskan kamar,
dan setelah itu menemaninya membaca salah satu buku favoritnya?”

Minta maaf memang membutuhkan keberanian. Jadi, anak pun membutuhkan dorongan dari Anda agar mampu melakukannya dengan setulus hati. Tentu saja, tujuan akhirnya adalah mengasah kepekaan anak, agar ia bisa menjaga sikap sehingga tak sampai harus minta maaf karena telah melakukan suatu kesalahan.

Posting Komentar

 
Top