0

Setelah menghabiskan 7 jam di dalam kelas, siapa yang sudi duduk dan mengerjakan PR? Pasti anak usia 6-8 tahun lebih memilih bermain bersama teman, mengikuti ekstrakulikuler, atau bermalas-malasan di depan televisi. Yang kita hadapi: Pekerjaan rumah memang membantu pembelajaran anak tapi tetap saja itu adalah tugas berat bagi anak. Pada usia tersebut, anak mulai terbiasa mengerjakan pekerjaan yang dia suka. Kebanyakan dari mereka lebih menyukai sosialisasi daripada tugas-tugas sekolah. Jadi jangan terlalu kaget jika anak Anda mengeluhkan beban pekerjaannya.

Berdasarkan survei sebuah lembaga penelitian nirlaba AS, hampir separuh jumlah orang tua beradu argumen dengan anak mereka seputar PR. Tapi bukan berarti PR menjadi sumber ketegangan antara Anda dan anak. Kiat berikut akan membuat kegiatan belajar menjadi lebih mudah.
  • Mulai dengan kudapan dan aktivitas fisik. Anda tidak bisa memaksa anak berkonsentrasi dalam keadaan perut kosong. Selalu siapkan kudapan di dalam mobil dan biarkan ia menyantap selama dalam perjalanan pulang dari sekolah. Kemudian, biarkan anak bermain sebentar dan ia akan siap mengerjakan PR begitu sampai di rumah.
  • Jalankan rutinitas. Tanyakan kepada anak saat yang tepat untuk mengerjakan PR. Sesuaikan juga jadwal membuat PR dengan aktivitas lain seperti les piano atau latihan sepak bola. Jika si kecil kedatangan teman bermain, ajak mereka mengerjakan PR bersama.
  • Bentuk keteraturan. Ciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan: meja belajar, rautan, penghapus, kamus, dan gunakan warna untuk mengelompokkan buku. Biarkan anak mengerjakan PR di dapur jika dia menginginkan namun pastikan ia bekerja mandiri bukan menghujani Anda dengan pertanyaan saat Anda sedang memasak.
  • Izinkan dia pegang kendali. Prinsip utama mengerjakan PR adalah mengajarkan tanggung jawab kepada anak untuk menyelesaikan tugas. Jika dia lupa halaman yang harus ia kerjakan, izinkan dia menelpon dan menanyakan kepada teman satu kelas. Anda boleh mengingatkan secara halus (“Ingat kan kakak punya PR matematika dan bahasa yang harus dikumpulkan Rabu?”), jangan paksa anak untuk segera menyelesaikan tugasnya. Biarkan ia menghadapi konsekuensi jika dia tidak mengerjakan PR.
  • Beri kelonggaran. Jika anak Anda mengikuti segudang kegiatan ekstrakulikuler, ia akan kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan PR. Dia juga bisa kehilangan watu istirahat yang penting bagi kreativitas. Agar anak tidak kelelahan, Anda bisa membantu dia memilihkan ekstrakulikuler yang tidak memakan terlalu banyak waktu latihan: dua kali dalam satu minggu cukup. Saat tidak mengikuti ekstrakulikuler, anak pulang sekolah, mengerjakan PR, dan bermain bersama teman.
  • Jangan biarkan terputus. Begitu si kecil duduk dan mengerjakan PR, beri dia semangat untuk menyelesaikan seluruh soal sebelum bermain komputer. Bukan menyegarkan konsentrasi anak, “gangguan” sejenak atau dalam waktu lama justru membuyarkan konsentrasi dan membuat pekerjannya tidak kunjung selesai.
  • Beri contoh. Misalnya, ketika anak sedang mengerjakan PR matematika, Anda bisa menyortir surat atau menghitung tagihan. Dengan duduk di sampingnya dan memberi contoh nyata aplikasi matematika, ia mengetahui bahwa PR-nya berguna untuk keseharian.
  • Berpikir positif. Beri apresiasi atas pencapaian anak dan jangan menghardik jika dia melakukan kesalahan. Jika ia berhasil menjumlahkan angka dengan benar, beri pujian “hebat”. Dan jika ia salah, ucapkan “hampir”, beri jawaban benar, dan beri satu tebakan lagi.
  • Beri petunjuk, bukan jawaban. Anda bisa memberi jalan untuk mencari jawaban tapi jangan kerjakan PR dia. Hal itu membuat anak tidak punya kebanggaan terhadap jerih payah dan tanpa sadar Anda menciptakan kebiasaan yang sulit diubah. PR adalah tugas anak, bukan Anda.

Posting Komentar

 
Top