0

Setiap kali mengerjakan PR dengan soal bacaan, Aldo (8) yang duduk di kelas tiga SD pasti tak henti bertanya. Padahal, jawaban yang ia tanyakan seharusnya bisa ia cari dan temukan sendiri di buku pelajarannya. “Tapi, ya, itulah... kalau disuruh membaca agak panjang sedikit, dia pasti banyak alasan. Padahal saya sudah berkali-kali menyuruhnya, ‘Baca dulu dong... jawabannya pasti ada di buku!’” kata Amie, mamanya, dari Bintaro, Tangerang, dengan kesal.

Anak sekarang memang lebih terekspos dengan gambar dibanding tulisan, Ma. Mulai dari film kartun, cerita komik, hingga aneka game, semua dipenuhi oleh gambar. Tulisan memang ada, tapi sangat sedikit. Akibatnya, banyak anak tidak betah membaca tulisan yang panjang-panjang. Bagi mereka, hal itu sama sekali tidak asyik, atau bahkan membosankan.

Daripada ‘bergerak’ menelusuri deretan huruf-huruf, lebih seru ‘bergerak’ cepat bersama gerakan tokoh-tokoh game di dunia virtual. Pantaslah kalau soal-soal yang menuntut mereka untuk membaca pun jadi terasa kurang menarik. Tak heran ketika ada PR dengan soal-soal seperti itu, jalan pintasnya, ya, tanya mama saja!

Bila ini terjadi pada anak Anda, tentu menegurnya sekali dua kali masih tak masalah buat Anda. Tapi kalau terus-terusan? Lebih baik tidak. Lagipula, hal itu tampaknya tidak akan cukup efektif untuk membuat anak Anda berubah. Coba ikuti saran berikut:

- Perbanyak mengekspos anak dengan buku. Anda bisa membawa anak ke toko buku atau ke perpustakaan. Lewatkan waktu di tempat-tempat tersebut tanpa terburu-buru karena ditunggu acara lain. Dengan melihat beraneka-ragam buku, termasuk yang disukainya, sedikit demi sedikit minat bacanya akan lebih terasah. Bila ia sudah suka membaca, bacaan demi bacaan akan lebih mudah ia ‘lahap’ tanpa merasa terbebani.

- Sepakati jadwal membuat PR yang ‘bebas gangguan’. Artinya, selama waktu itu, ia harus benar-benar fokus menyelesaikan PR tanpa terburu-buru ingin bermain atau menonton acara TV favoritnya.   

- Ajak anak membuat rangkuman dari setiap bab yang ia baca dan pelajari. Jadi, ketika ia harus mengerjakan PR atau mau ulangan, ia tak perlu lagi membaca keseluruhan bacaan. Selain itu, proses membuat rangkuman juga akan membuat anak mau tak mau harus membaca dulu keseluruhan bab, kan? Itu berarti ia sudah mengasah kemampuan membaca, melatih kelancaran menulis, sekaligus melatih ketekunannya dalam menghadapi rangkaian huruf-huruf yang semula mungkin kurang menarik baginya.  

Usahakan untuk mendampingi dia belajar ya, Ma. Meski tak bisa setiap hari, adakan saat-saat spesial ‘belajar bersama mama’, agar ia tahu betapa Anda sangat menghargai kemauan dan usahanya untuk belajar, termasuk menyelesaikan PR dan tugas-tugas sekolahnya dengan baik.

Posting Komentar

 
Top