0

Yang namanya di-bully, bisa terjadi karena alasan apa pun, bahkan yang tidak masuk akal sekali pun. Tapi, menurut penelitian, anak-anak yang kegemukan dan anak-anak yang kurus-kecil lebih berisiko menjadi korban bullying.

Sering terjadi, olok-olokan soal bentuk tubuh itu akhirnya membuat anak mempunyai masalah dengan body image. Body image berkaitan dengan bagaimana seseorang memaknai bentuk tubuhnya. Dan, bagaimana anak memaknai bentuk tubuhnya akan memengaruhi bagaimana ia memaknai diri seutuhnya. Jika ia memaknai tubuhnya secara negatif, kepercayaan dirinya akan rendah dan lebih besar kemungkinan mengalami depresi.

Bagi anak yang gemuk (dan bagi tiap orang yang kegemukan atau pernah gemuk) menurunkan berat badan bukan tugas yang mudah. Ditambah ejekan dan bullying, ‘tugas’ itu semakin susah. Parahnya lagi, bukan hanya para ‘mean girls’ yang melakukan bullying. Sebuah penelitian menemukan, orang tua, saudara, guru, dan teman akrab bisa juga ikut mem-bully tanpa disadari. Mungkin niatnya baik, sehingga orang tua, tante, atau nenek merasa ‘berhak mengomentari’ berat badan si kecil, apa yang dimakan, dan aktivitasnya untuk ‘menyadarkan’ dan memotivasi anak mencapai berat badan sehat. Sayangnya, komentar itu sering kali terdengar sebagai kritikan yang menghakimi. Anak pun sedih dan kesal.

Banyak juga penelitian yang menemukan, anak yang kegemukan dan sering diolok-olok justru makin enggan berolahraga dan beraktivitas fisik. Masalahnya bukan karena mereka malas, tapi lebih karena khawatir akan menjadi bahan tertawaan di lapangan atau playground. Mereka takut ‘ditonton’ saat berlatih, apalagi dengan tatapan meremehkan soal seberapa cepat mereka bisa berlari atau bisa tidak melompat seperti anak-anak lain.

Jika anak diolok-olok soal bentuk tubuhnya, baik itu gemuk atau kurus, cobalah berempati padanya. Misalnya, dengan berkomentar, “Aduh, kamu pasti sakit hati, ya, Sayang?” Tapi, jangan menyangkal bahwa si kecil memang punya masalah berat badan. Pilih momen yang pas untuk mengobrol soal berat badan, seperti saat berbelanja bersama di supermarket. Kalau anak sudah lebih besar, boleh juga beri ‘pendahuluan’ beberapa hari sebelumnya dengan membahas artikel-artikel kesehatan di majalah dan internet bersamanya.
Saat membahas masalah berat badan dengan anak, tegaskan bahwa bentuk tubuhnya itu bukan salah mereka. Hati-hati, ya, Ma! Jangan sampai Anda mengaitkan tubuh langsing dengan kecantikan dan kesuksesan. Pastikan si kecil paham bahwa masalah berat badan, baik itu kelebihan atau kekurangan berat badan, merupakan masalah kesehatan.

Posting Komentar

 
Top