0

Obsesi anak awalnya memang menyenangkan. Tentu Anda suka si kecil punya fokus dan ingin mengeksplorasi satu topik secara mendalam. Namun ketika anak sudah terpikat dengan sesuatu, rentetan pertanyaan yang membombardir Anda (“Mana yang bisa mengangkut lebih banyak tanah: Backhoe atau bulldozer?”) dan permintaan (“Boleh aku minta baju Barbie lagi?”) akan menguji kesabaran orang tua manapun.

Namun para pakar tetap meminta Anda untuk belajar memahami hobi anak. Untuk satu alasan, hobi membuat anak bahagia. “Plus, ketertarikan mendalam bisa memicu rasa penasaran yang baik untuk mengasah kecerdasan anak,” kata Lisa Spiegel, codirector Soho Parenting, pusat pendampingan keluarga dan dukungan emosional di New York City.

Alexa Chaplin dari Vestal, New York, mengatakan bahwa ketertarikan putranya, Campbell, terhadap budaya Mesir kuno pada usia 3 tahun menjadi pintu masuk memelajari piramida dan arkeologi. Campbell betah duduk manis selama 45 menit mendengarkan Mummies in the Morning, bagian dari serial Magic Tree House dan perbendaharaan katanya bertambah dengan cepat.

 Obsesi anak juga dapat membangun hubungan sosial. Andrea Facio dari Linden, North Carolina, menyadari bahwa putrinya yang berusia 3 tahun, Cali, dapat menepis rasa malu di hadapan orang dewasa ketika membicarakan seputar boneka bayi. “Dia senang menjawab pertanyaan tentang boneka itu,” kata Facio.

Bahkan hobi anak bisa mendekatkan seluruh anggota keluarga Anda. Dengan mendukung hobi, orang tua (dan terkadang saudara kandung) ikut mendalami topik tersebut dan ketertarikan anak bisa menular. Dr. DeLoache menyebutkan, melalui riset dia menemukan bahwa ketertarikan seorang anak perempuan terhadap kostum membuat seluruh anggota keluarga asik memeragakan pasukan Perang Sipil. Dan berkat kecintaan sang putri, Olivia, terhadap dinosaurus, keluarga Arnold dari Worcester, Massachusetts, sudah dua kali berkunjung ke New York City’s American Museum of Natural History untuk melihat langsung tulang-belulang T-rex dan stegosaurus.

Posting Komentar

 
Top