0

AKUILAH: Anak-anak pasti suka banget pada makanan yang diselaputi gula, garam, serta lemak. Dan, tentu dong, beberapa keripik, cookies, atau semangkuk es krim sesekali waktu sah-sah saja. Tetapi, di masa para dokter anak dan pakar gizi terus mencari penyebab peningkatan masalah obesitas pada masa kanak-anak, mereka terus memerhatikan jenis makanan yang disantap anak-anak kita di antara jam makan. Dan para pakar itu was-was dengan apa yang mereka temui.

“Epidemi obesitas anak-anak jelas berkaitan dengan kelebihan kalori yang dikonsumsi anak setiap harinya saat mengemil,” ujar Barry Popkin, Ph.D., professor of nutrition pada University of North Carolina School of Public Health. Bahkan lebih parah lagi, menurut para pakar, tren ini terjadi di segala usia— dari batita sampai remaja.

Masalahnya adalah, anak-anak zaman sekarang tidak hanya ngemil lebih sering, namun porsinya juga jauh lebih besar dan lebih menggemukkan. Ambil contoh camilan umumnya batita: Satu kotak kecil crackers berbentuk binatang dan 200 ml jus kotak mengandung 350 kalori— sekitar sepertiga kalori yang dibutuhkan oleh si dua tahun dalam satu hari. Angka ini bertambah terus. Rata-ratanya, anak Amerika usia dua tahun sudah mengonsumsi sekitar 1.250 kalori per hari. Padahal, ia hanya perlu 1.000 kalori/hari. Di Indonesia, fenomena ini juga sudah harus diwaspadai. Lihat saja di swalayan, begitu banyak jenis cemilan untuk anak.

Satu generasi sebelumnya, kata Popkin, anak mendapat kurang dari 20 persen kalori hariannya dari camilan. Kini, sudah mencapai sekitar 25 persen--dan ini masih terus meningkat.

Ketika batita serta si usia prasekolah ngemil terlalu sering—dan menyantap makanan yang salah— mereka ini sebenarnya sudah di ambang pergulatan seumur hidup melawan masalah berat badan dan kondisi kesehatannya. “Akar masalah kegemukan di masa kanak-kanak terjadi antara umur satu sampai lima tahun,” jelas William Klish, M.D., pediatric gastroenterologist di Texas Children’s Hospital di Houston.

Tentu saja, secara alami bayi-bayi agak gemuk alias chubby. Namun, begitu mulai belajar berjalan, kira-kira menjelang ulang tahun pertama, secara perlahan-lahan anak akan kehilangan lemak tubuh dan menambah jaringan lunak tubuh (kebanyakan sih otot) hingga beberapa tahun sesudahnya. Bila proses itu tidak terjadi, bersiap-siaplah menghadapi masalah yang sangat serius. Jika si prasekolah dibiarkan kegemukan, ia akan menghasilkan terlalu banyak lemak tubuh, sementara massa jaringan lunaknya tidak terbentuk sebanyak yang dibutuhkan.

Tanpa massa jaringan lunak yang mencukupi, metabolisme tubuhnya akan kurang lancar. Akibatnya, tubuh tidak mampu membakar kalori yang cukup, dan  juga lemak. Ini, pada gilirannya, secara fisiologis akan membuatnya lebih mudah lagi menambah berat badannya. Akibatnya? “Selama di sekolah dasar, ia akan mengumpulkan lemak tubuh lebih cepat ketimbang anak lain,” ujar Dr. Klish. “Kalau kita biarkan batita dan si prasekolah jadi kegemukan, ini berarti kita membiarkan ia jadi overweight di sekolah dasar dan setelahnya.”

Karena ini kenyataannya: Anak-anak yang kegemukan cenderung tumbuh jadi orang dewasa yang kegemukan juga.

MENGUBAH KEBIASAAN BURUK
Banyak orang tua yang menyadari kalau anaknya seharusnya ngemil makanan yang lebih bergizi. Masalahnya cuma, kita begitu sibuknya dengan hidup kita, sehingga tidak tahu bagaimana, atau di mana, mulainya.

Charlotte Bush, mama Fiona, 16 bulan, dari Williamsburg, Virginia, melihat banyak anak asyik mengunyah kentang goreng dan minum soda di tempat bermain saat jam ngemil tiba. “Saya dengar banyak ibu-ibu ngomong, ‘Saya pingin dia minum yang lain dibandingkan soda’. Dan saya berpikir, ‘Kenapa kamu dulunya ngasih dia soda?’” Tamara Zappa juga bingung dengan pilihan makanan ibu lainnya—termasuk suami sendiri: “Dia baru mengenalkan keripik kentang ke si dua tahun kami, Henry,” kata mama dari Phoenix ini. “Tapi, kayaknya sih dia masih terlalu kecil.”

Masalahnya adalah, sekali kebiasaan mengemil makanan tak sehat mulai tertanam, nantinya sulit sekali diubah. “Kami tahu kalau pola makan anak, cita rasa dan selera makannya mulai terbentuk dalam dua tahun pertama usianya,” jelas Margaret Bentley Ph.D., professor of nutrition pada University of North Carolina, Chapel Hill. Dan kebiasaan ngemil ini akan terus berlanjut, kata Dr. Klish. “Begitu  anak gelisah, bosan, atau capek, tangannya langsung merogoh camilan,” jelasnya. Dan banyak orang tua yang menyerah, maklum, biasanya mereka itu lebih mementingkan agar anak betah duduk lama-lama di mobil atau saat berbelanja di swalayan. Pertimbangan nutrisi pun jadi tak terpikirkan.

Kebiasaan anak ngemil di sela-sela jam makan tidak selalu seburuk itu. Pada generasi sebelumnya, ketika mama ingin memberi anaknya camilan, biasanya ia sudah lebih dulu menyiapkan sesuatu—mengoleskan pindakas di roti atau mengupas pisang. Dan camilan disediakan untuk sesuatu yang khusus, biasanya di meja makan. Tidak seperti sekarang. “Saya tidak bisa meninggalkan rumah tanpa membawa seabrek camilan. Untuk jaga-jaga,” ujar Megan Gorman, mama dua anak perempuan, umur tiga dan empat tahun, di Melrose Park, Pennsylvania. “Saya bawa-bawa di tas saya, di mobil, pokoknya kemanapun saya pergi. Seperti kebanyakan mama, saya mengkondisikan anak-anak untuk memintanya begitu lapar.”

Dan betul. Itulah yang mereka minta.

ADA DI KEMASAN
Apakah anak betul-betul butuh ngemil di antara jam makan? Tentu saja. Camilan penting bagi anak, kata para pakar, sebab perutnya kecil. Dan karena anak tidak bisa makan banyak-banyak sekaligus, ia perlu ngemil lebih sering. Namun apapun camilannya dalam sehari, seharusnya kita hanya memberikan 20 persen dari total kalorinya.

Pakar gizi menganjurkan, batita boleh ngemil tiga kali dalam sehari; anak-anak prasekolah dan usia sekolah sampai umur delapan tahun, dua kali; anak umur sembilan tahun dan lebih, satu kali. Tetapi yang lebih penting dari berapa banyak camilan anak di sela-sela jam makan adalah apa yang dikunyah.

Langkah pertama, menurut para pakar: Berhenti memikirkan camilan sebagai sesuatu yang harus dikemas. Itu karena, pada kebanyakan kasus, camilan kemasan itu so pasti manis atau asin—dengan kata lain, padat kalori. Ini seharusnya disebut treat alias bonus istimewa.

Dan bonus istimewa seharusnya merupakan sesuatu yang hanya terjadi sesekali-saja — es krim setelah menang pertandingan sepakbola Sabtu sore atau beberapa cookies selama berkunjung ke rumah nenek di akhir pekan. Yang jelas, treat bukanlah sesuatu yang anak Anda harapkan setiap pulang sekolah. Tutur Zappa mengenai anak laki-lakinya, Henry: “Kakeknya membiarkannya minum soda,” katanya. “Dia boleh minum soda di restoran pada acara-acara khusus.” Tapi, tidak setiap hari kan?

Sumber : http://www.parenting.co.id/

Posting Komentar

 
Top