0

Setelah hadir di Paragon Mall, Starbucks Coffe hadir juga di kawasan Simpang Lima, tepatnya Mal Ciputra sejak 29 Juni 2014. Outlet Citraland ini terbagi menjadi 2 bagian, bagian dalam yang ber-AC, dan bagian luar untuk yang menikmati kopi sambil merokok. Dengan membawa tumbler, pengunjung mendapatkan diskon 3 ribu rupiah.

Harga harga kopi di Starbucks ini antara lain: Caffe Latte 26, Cappuccino 26, Caffe Mocha 32, Brewed Coffe 17, Caramel Mcchiato 35, Caffe Misto 19. Minuman lain: Full-Leaf Brewed Tea 16, Green Tea latte 33, Ice Shaken Lemon Tea 26, Signature Chocolate 33, Caramel Chocolate 39. Harga dalam ribuan, sudah termasuk pajak 10%. Harga pada Agustus 2014.

Starbucks Coffee Ciputra Semarang
Alamat: Mall Ciputra Ground Floor, Extention Mall Timur
Jl Simpang Lima No 1 Semarang Jawa Tengah.
Website: www.starbucks.co.id
Jam buka 10.00 – 22.00 WIB.
Lokasi: Keluar dari Mc DPutra saya yang berusia tujuh tahun, Carl, begitu terobsesi dengan kemenangan.  Olahraga, bermain catur, bahkan berganti baju di pagi hari adalah kompetisi baginya. Tidak ada yang bisa membuatnya lebih bahagia daripada berseru, “Aku menang!”

Mengapa anak-anak usia 6–8 tahun menjadikan semua hal sebagai sebuah perlombaan? Mereka ingin pamer. Maklum, kemampuan fisik anak, seperti menembakkan bola basket ke ring, maupun kemampuan analitik, misalnya berpikir sebelum menggerakkan bidak catur, sedang mengalami perkembangan. Selain itu, mereka mulai tertarik dengan hal-hal yang bisa dilakukan orang lain. “Anak-anak pada usia ini mulai melihat sekeliling dan membandingkan, siapa saja yang mendapat pujian jika nilai PR-nya bagus atau yang berhasil mencetak lebih banyak gol,” ujar Marty Ewing, PhD., psikolog olahraga di Michigan State University, East Lansing. “Mereka tahu bahwa kemenangan berarti mendapatkan hadiah, sementara tidak demikian dengan kekalahan.”

Sebenarnya, kompetisi bukanlah hal buruk. Melihat orang lain mampu mencetak prestasi akan membuat anak merasa tertantang untuk mencoba lebih keras lagi. Seiring dengan peningkatan kemampuan dalam permainan atau olahraga, anak-anak juga memperoleh rasa percaya diri. Namun sifat haus kemenangan bisa dengan mudah membuat anak kehilangan kontrol. Dia mulai bersedia melakukan apa saja, misalnya menyontek, mengganti aturan main seenaknya, atau beradu pendapat, demi menghindari kekalahan. Anak yang memiliki sifat seperti ini tidak akan punya banyak teman.

Mengapa kemenangan menjadi begitu penting?

Beberapa anak menyenangi kompetisi sementara yang lain menghindar. Kepribadian anak sangat mempengaruhi pendekatannya dalam menghadapi suatu kompetisi. Anak-anak memperhatikan reaksi orang-orang dewasa di sekitarnya dalam menghadapi kemenangan dan kekalahan, kata Rae Pica, penulis A Running Start: How Play, Physical Activity, and Free Time Create a Successful Child. Jika Anda merasa jengkel ketika melihat anak gagal mencetak gol, atau terus menerus membandingkan penampilannya dengan anak lain maka ia merasa Anda akan menerimanya jika ia lebih baik dari orang lain. Hasilnya, anak akan mencoba untuk menang dengan cara apapun, atau malah berhenti mencoba sama sekali.

Bantu anak untuk memahami bahwa kemenangan bukanlah segalanya. Sebab, tujuan sebuah kompetisi adalah memberikan performa yang terbaik. Alih-alih bertanya, “Apakah kamu menang?” atau “Berapa nilaimu?” sebaiknya tanyakan, “Apakah kamu cukup bersenang-senang?” atau “Apa yang tadi dipelajari?” Pujilah usahanya, bukan hasil yang diperolehnya. Selain itu, berikan komentar yang spesifik, misalnya memuji tendangannya yang sangat kuat atau tangkapannya yang tepat sasaran. “Mengatakan, ‘Sudah bagus,’ tidaklah cukup,” kata Pica.

Membesarkan Atlet yang Sportif

Terlepas dari usaha Anda, anak mungkin masih bersikap kompetitif secara berlebihan. Di bawah ini terdapat beberapa tips untuk memperbaiki tingkah lakunya tersebut.

Bermain sesuai aturan. Ketika Anda bertanding dengan anak dalam sebuah permainan, gunakan kesempatan ini untuk mengajarkan sang buah hati cara memenangkan atau menerima kekalahan dengan sportif. Anak tidak menghargai kemenangan yang telah diraih jika Anda sengaja mengalah. Dan jangan biarkan anak mengubah aturan main. Meski begitu, tidak ada salahnya mengadaptasi sebuah permainan demi membangun kemampuannya. Saat bermain pingpong, berikan kesempatan bagi anak untuk melakukan servis tambahan di awal permainan. Selama Anda setuju dengan perubahan aturan main sejak awal, maka hal itu sah-sah saja.

Bantu dia menetapkan target. Semangati anak untuk berlomba melawan diri sendiri, dan bukan orang lain. Tanyakan, berapa kali dia mampu mendribel bola dalam 60 detik, atau berapa banyak pukulan bola tenis yang bisa dilakukan berturut-turut. Ia akan puas melihat kemajuan yang berhasil dilakukannya. Selain itu, cara ini juga akan membuatnya tidak terlalu ngotot saat bermain melawan temannya.

Berganti kegiatan. Jika anak terlalu serius dalam menanggapi kemenangan, carilah kegiatan yang lebih mementingkan kecakapan daripada perolehan nilai, misalnya bela diri, bersepeda, atau menari.

Jangan menoleransi sikap tak sportif. Ajarkan anak untuk mengontrol emosi, baik saat menang ataupun kalah. Ajarkan pula dia untuk siap menerima konsekuensi. Seorang pemenang yang sesumbar juga sama buruknya. Beberapa jenis liga olahraga meminta dua tim yang berhadapan untuk bersalaman setelah pertandingan berakhir. Coba terapkan kebijakan yang sama di rumah. [Karen Horsch]onald, balik arah kanan.

Sumber : http://parentsindonesia.com/

Posting Komentar

 
Top